HistoriSitubondo

Pegiat Sejarah Sebut Minimnya Tinggalan Arkeologis Masa Klasik di Situbondo

Koordinator PICB Balumbung Irwan Rakhday.

Situbondo, S One- Tinggalan arkeologis dari masa klasik khususnya, jarang didapati dari wilayah Kabupaten Situbondo, Provinsi Jawa Timur.Temuan lepas memang rentan mengalami kerusakan bahkan musnah atau hilang. Resiko hilang karena diperjualbelikan tentu terjadi lantaran keberadaan benda tersebut masih dikuasai secara pribadi dan tidak dilaporkan secara berkala selain status benda tersebut belum ditetapkan sebagai cagar budaya. Hal itu disampaikan Koordinator PICB (Pusat Informasi Cagar Budaya) Balumbung Irwan Rakhday, Selasa (17/9/2019) malam.

Berdasarkan data dari PICB (Pusat Informasi Cagar Budaya) Balumbung yang terletak di Gang Sorakerta/11, Desa/Kecamatan Asembagus, Kabupaten Situbondo, terdapat sejumlah benda cagar budaya yang statusnya teregistrasi BPCB (Balai Pelestarian Cagar Budaya) Jatim (dulu SPSP Trowulan, red) justru raib dari tangan orang yang merawatnya.

Menurut Irwan Rakhday, sedikitnya ada 2 benda cagar budaya dengan status teregister yang telah dijual di pasar gelap.

“Dua benda cagar budaya yang bernomor register dari masa klasik milik Desa Pategalan,Kecamatan Jatibanteng sudah terjual ke tangan kolektor beberapa tahun silam. Dua arca itu antara lain Arca Ganesha dan Arca Mahakala,” ujar Irwan.

Ditambahkan, dirinya mengorek informasi tersebut setelah merunut arsip data dari BPCB Jatim. Setelah itu bersama pegiat sejarah lainnya, dia melacak ke Mantan Carik Pategalan H. Tirto di tahun 2018 dan Februari 2019.

Dia mendapat informasi dari H. Tirto yang kemudian meninggal dunia pada April 2019.Almarhum menyebutkan jika Arca Ganesha dan Arca Mahakala telah dijual oleh istri Petinggi H. Hasan Mustofa.

“Arca- arca itu dibeli orang Bondowoso pada Bu Haji (istri H. Hasan Mustofa, red ) tapi pembayarannya tidak beres alias ditipu,” ucap Irwan menirukan pernyataan Almarhum H. Tirto.

Selain itu, lanjut Irwan, ada satu benda cagar budaya yang cukup urgen untuk diselamatkan yaitu Arca Parwati.

“Arca Parwati dari bahan batu tersebut tidak utuh saat diregistrasi pada tahun 1988. Setelah kami meminta ijin pada H. Tirto mencari benda lainnya di sudut kamar belakang, kami temukan fragmen arca bagian kakinya, lalu kami sambung saat pendokumentasian. Arca tersebut teregister dengan nomor 3/STB/1988,” papar Irwan.

Menariknya, Irwan mendapati satu temuan lepas lagi berbahan batu di sudut gudang berupa Arca Jaladwara. Fragmen dari sebuah petirtaan atau bangunan candi yang berfungsi sebagai pancuran air itu beberapa bagiannya telah rumpil.

“Sementara kami hanya mampu berinisiatif menyelamatkan pancuran air kuno tersebut. Melalui negosiasi seorang kawan, kami menebusnya seharga 3,8 juta,” ungkapnya.

Kendati Jaladwara tersebut diprediksi memiliki harga cukup tinggi, Irwan menyatakan tak berniat menjualnya.

“Ini aset cagar budaya Kabupaten Situbondo yang wajib kita lestarikan. Benda ini kita simpan dan kumpulkan untuk diregistrasi nantinya. Kami telah mendata awal. Informasi dari Almarhum H. Tirto, Jaladwara tersebut dulunya diambil oleh H. Hasan Mustofa di Situs Kekunoan Rengganis yakni di Puncak Gunung Argopuro,” tandas Irwan.

Lebih jauh, pria yang juga pendidik di salah satu sekolah dasar itu menyatakan harapannya, pemerintah daerah seharusnya lebih berinisiatif menganggarkan penyelamatan benda-benda temuan lepas semacam itu yang diindikasikan berasal dari situs bersejarah di Kabupaten Situbondo.

“Jika itu tidak diupayakan, lambat laun bukti arkeologis khususnya dari masa klasik makin berkurang sehingga ke depan kita tidak memiliki artefak yang tak ternilai harganya tersebut dari aspek kesejarahan,” pungkasnya. (SO)

Koordinator PICB Balumbung Irwan Rakhday.
the authorRedaktur