FeaturedHistoriHukum & KriminalKesehatanNasionalPendidikanPeristiwaSitubondoUncategorized

Ketum GP Sakera Sebut Dirut RSUD Situbondo Bikin Statement Konyol.

Situbondo, S-One News.com_ Pasca viralnya video dari Ketum GP Sakera yang mempertanyakan prosedur vonis covid 19 terhadap pasien karena Kecelakaan yang dirawat di RSUD Abdoerrahem Situbondo. Hingga muncul di media tentang bantahan dari PlT Direktur RSUD Abdoerrahem Situbondo tentang tudingan dari Ketum GP Sakera.

Menanggapi hal tersebut Ketum GP Sakera Syaiful Bahri melalui live di chanel you tubenya GP Sakera Situbondo mengatakan pihak nya sangat menyesalkan karena PlT Direktur melakukan pembantahan yang tidak sesuai dengan realita dan fakta.(13/07/2021)

“Saya melihat di media PlT Direktur membuat statement konyol. Dengan melakukan pembantahan-pembantahan yang tidak sesuai dengan fakta dan realita, ini yang saya sesalkan. Seorang Direktur yang seharusnya memahami betul persoalan yang ada di bawahnya justru melakukan pembenaran-pembenaran. Seorang Direktur yang seharusnya bisa melakukan evaluasi.” Ucap Ketum GP Sakera dengan wajah penuh kekecewaan.

“ Hei PLt Dirketur…, Informasi saudara itu dari siapa?” Tanya Syaiful Bahri.

“Jangan sesatkan masyarakat!, Jangan tunjukan hanya sebuah kebaikan. Ketika kamu selalu merasa benar maka kesalahan akan terus-terus di lakukan.”

“Pertama pasien kecelakaan ini datang ke Rumah Sakit dalam posisi sudah keadaan tidak sadarkan diri, Disitu dikatakan kesadarannya melemah. Saya katakana dia sudah tidak sadarkan diri. Bedakan kesadaran melemah dengan sudah tidak sadar diri,” Jelas ketum GP Sakera yang kerap dipanggil Bang Ipoel.

“Kedua, bahwa rapid antigen berdasarkan pengakuan dari pengadu dan pernyataan dari orang yang berada dalam IGD. Rapid dilakukan karena pasien hendak dirujuk ke Bondowoso bukan karena Rontgen. Bukan karena hasil evaluasi tindakan lanjut medis, Ayolah jangan bodohi masyarakat,”Tegas Bang Ipoel.

“Saya tidak pernah mengatakan Rumah Sakit Umum mengcovidkan, Tapi Rumah Sakit Umum menawarkan yang dimana keluarga pasien untuk menandatanganiap. Sehingga ketika diakhir almarhum meniggal itu tidak ditandatangani. Kenapa di awal ditandangani dan di akhir tidak ditandangani?. Karena ketika diawal adalah satu yang ada difikiran keluarga pasien yaitu bagaimana agar rumah sakit merawat keluarganya yang sakit,” Sanggah Bang Ipoel.

“Jadi itu yang terjadi Bu Direktur. Siapa yang ngomong ? Ketum GP Sakera.”

“Kalo saudara merasa saya salah ayo kumpulkan dengan orang-orang yang berada di IGD, jangan menutupi kebobrokan dengan kebohonan yang lain.”

Masih ketum GP Sakera membantah, “Ketika pasien ini dirapid dan reaktif itu tidak segera di lakukan tes PCR, Ada kesimpang siuran dari anak buahnya. Dimana dia mengatakan hari minggu dan hari senin. Sedangkan pasien datangnya hari sabtu. Jadi ini tidak segera dilakukan,” Paparnya. (SO2)

the authorRedaktur2